Selasa, 18 September 2012

PENGERTIAN PENGETAHUAN, CARA MEMPEROLEH PENGETAHUAN


PENGERTIAN PENGETAHUAN, CARA MEMPEROLEH PENGETAHUAN
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Metode Penelitian Bahasa
Dosen Pengampu:  Drs. Suyoto, M.Pd.

Ikip
Oleh:
Kelompok  1
Endhi Pujiana
Silvia Ariyani
Nurhadi


JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
IKIP PGRI SEMARANG
2011
















BAB II
PEMBAHASAN
A.    HAKIKAT PENGETAHUAN
Terdapat peribahasa sebagai berikut” barang siapa yang merasa dirinya pintar, itulah kebodohan, tetapi barang siapa yang merasa dirinya bodoh, itulah kepintaran.” Dari peribahasa tersebut mempunyai filsafat yang berbunyi:
a.                Ada orang yang tahu ditahunya
b.               Ada orang yang tahu di tidak tahunya
c.                Ada orang yang tidak tahu di tahunya
d.               Ada orang yang tidak tahu di tidak tahunya
Orang yang tidak tahu di tidak tahunya tetapi merasa tahu segala-galanya itulah kebodohan. Kita menyadari bahwa amat sedikit pengetahuan yang kita miliki. Mengetahui bahwa masih banyak yang belum kita ketahui sehingga menimbulkan keinginan untuk mengetahuinya.
Masalah pengetahuan berkisar pada tiga hal, yaitu mengenai apa disebut ontologis, bagaimana mengetahui disebut epistemologi, dan untuk apa pengetahuan itu disebut aksiologi. Hakikat pengetahuan meliputi semua yang diketahui oleh seseorang tentang objek tertentu. Seseorang mengetahui apa yang baik dan buruk, baik dan benar, mengetahui bahwa tanaman menjadi subur jika diberi pupuk, mengetahui bahwa air laut akan pasang jika bulan purnama dan surut jika bulan mati, mengetahui cara mengoperasikan telepon seluler dan sebagainya. Contoh di atas merupakan pengetahuan pengalaman artinya ia tidak mempunyai pengetahuan tentang ilmu pengetahuan, yaitu pengetahuan yang menerangkan pengetahuan pengalaman itu. Masalah pengetahuan bukan hanya mengetahui, tetapi mengetahui yang benar. Banyak dari pengetahuan itu kita peroleh dari orang lain. Kalau kita bertanya kepada seseorang dimana jalan ke rumah A, dan ia memberi tahu kita, maka kita bisa percaya bahwa informasi yang diberikannya itu adalah informasi yang benar atau salah. Dengan kata lain, seberapa jauh kita menerimanya sebagai suatu kebenaran. Kebenaran adalah suatu pernyataan tanpa keraguan. Jadi menurut Notoatmodjo pengetahuan merupakan hasil dari proses mencari tahu, dari yang tadinya tidak tahu menjadi tahu, dari tidak dapat menjadi dapat. Dalam proses mencari tahu ini mencakup berbagai metode dan konsep-konsep, baik melalui proses pendidikan maupun melalui pengalaman.
B.     BERBAGAI CARA MEMPEROLEH PENGETAHUAN
Penelitian atau riset pada hakikatnya bertujuan memperoleh pengetahuan tentang sesuatu yang dianggap benar melalui proses bertanya dan menjawab. Penelitian bertitik tolak dari pertanyaan yang muncul karena adanya keraguan, dan keraguan ini yang menjadi dasar permulaan ilmu pengetahuan. Dari pertanyaan muncul suatu proses untuk memperoleh jawaban, yaitu jawaban yang dipercaya sebagai kebenaran walaupun sifat kebenarannya sementara. Jawaban yang diperoleh dari proses seperti itu pada gilirannya akan dipertanyakan kembali, yang akan dijawab lagi melalui proses penelitian. Demikianlah penelitian itu tidak pernah berakhir sehingga ilmu pengetahuan bisa berkembang terus. Kemudian untuk melakukan sebuah penelitian diperlukan metode atau cara atau teknik yang akan di tempuh. Dalam hal ini kita kenal dengan Metodologi yang berasal dari dua kata “ metode dan logos”, metode yang berarti cara atau teknik sedangkan logos berarti ilmu. Jadi metodologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang bagaimana kita mengetahui sesuatu.
Jadi hakikat metodologi penelitian tidak terletak pada apa yang kita ketahui, melainkan pada bagaimana kita mengetahui. Contoh, jika anda ditanya bagaimana bentuk bumi? Maka anda akan menjawab bahwa bentuk bumi bulat. Itu merupakan pengetahuan anda tentang bumi. Tetapi kalau ditanya bagaimana mengetahui bahwa bumi itu bulat? Itu merupakan metodologi.
Kita Memperoleh Pengetahuan dengan Dua Cara Menurut Babbie sebagai berikut:
1.                  Melalui orang lain. Orang lain memberitahukan kepada kita, baik secara langsung maupun melalui media, dan apa yang diberitahukan itu kita terima sebagai sesuatu yang kita anggap benar. Di keluarga, kita banyak memperoleh pengetahuan dari orang tua, sejak bayi hingga dewasa. Di sekolah, kita memperoleh pengetahuan dari guru dan bacaan-bacaan yang ada di perpustakaan. Dalam pergaulan di masyarakat, kita banyak memperoleh pengetahuan dari teman atau orang lain yang kita jumpai. Melalui buku-buku kita mendapat pengetahuan yang memperkaya diri. Pengetahuan yang diperoleh dengan cara ini disebut agreement reality.
2.                  Pengalaman diri sendiri secara langsung
Orang mengatakan bahwa pengetahuan adalah guru yang baik pengetahuan dari pengalaman diperoleh dengan mempelajari pengalaman kita sendiri. Pengalamn kita setiap hari jika direnungkan kembali akan memberikan banyak pengetahuan. Oleh karena itu janganlah langsung tidur pada malam hari sebelum merenungkan pengalaman hari itu untuk di syukuri dalam doa. Pengetahuan yang diperoleh dengan cara ini disebut riential reality.
C.    METODE DAN PENDEKATAN
Ada beberapa cara yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan diantaranya:
1)                  Metode Keteguhan ( Tenacity)
Dengan metode ini orang menerima suatu kebenaran karena merasa yakin akan kebenarannya. Unsur keyakinan dalam metode ini. Bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan dan bukan berasal dari monyet, diterima sebagai kebenaran karena keyakinan agama. Contoh sebagai umat muslim, kita yakin bahwa berbohong, mencuri, berkhianat, melakukan hubungan di luar nikah itu adalah dosa. Percaya jika memelihara keris tertentu maka ia akan terlindung dari bahaya atau sebagai tolak bala.
2)                  Metode otoritas
Sesuatu diterima sebagai kebenaran karena sumbernya mempunyai otoritas untuk itu. Bahwa alam semesta adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa diterima sebagai suatu kebenaran karena sumbernya adalah Alkitab. Pertanyaan dari seorang tokoh tertentu juga diterima sebagai kebenaran karena ia mempunyai keahlian di bidang itu dan terdapat sumbernya. Contoh: seorang hakim dalam memutuskan perkara tentulah beliau menggunakan acuan sebelum menjatuhkan hukuman tidak dengan seenaknya sendiri. Dan acuan tersebut terwujud.
3)                  Metode A Priori atau Intuisi
Sesuatu diterima sebagai kebenaran semata-mata berdasarkan intuisi artinya daya atau kemampuan atau memahami sesuatu tanpa dipikirkan atau dipelajari, hanya bisikan hati, gerak hati, atau juga bisa di namakan fileng. Contoh: meyakini perasaan cinta pada seseorang, perasaan benci dan dendam kepada orang lain.
4)                  Metode Tradisi/ Kebiasaan
Seseorang menerima kebenaran dari tradisi yang berlaku di dalam lingkungannya. Contoh: seperti masyarakat pedesaan yang setiap tahun mengadakan ritual sedekah bumi maupun sedekah laut. Hal tersebut sebagai perwujudan syukur  kepada penguasa langit dan bumi. Mereka meyakini jika tidak melakukan ritual tersebut maka akan terjadi bencana. 
5)                  Metode Trial And Error
Pengetahuan dengan cara ini diperoleh melalui pengalaman langsung. Sesuatu yang dianggap benar diperoleh hasil dari serangkaian percobaan yang tidak sistematis. Mula-mula dicoba, hasilnya salah, dicoba lagi sampai akhirnya ditemukan yang benar. Contoh: penelitian yang dilakukan Thomas Edision ( penemu listrik), Albert Eintein yang selalu mengalami kegagalan dalam menemukan pengetahuan. Hingga akhirnya penemuan itu menjadi sebuah pengetahuan yang menggemparkan dunia sampai sekarang ini.
6)                  Metode Metafisik
Suatu pengetahuan yang dianggap benar diperoleh secara metafisik. Jawaban terhadap masalah yang ditemukan dalam dunia empiris dicari di dalam dunia supranatural, di dalam dunia transedden ( di luar daya nalar atau kesanggupan manusia). Pengetahuan yang diperoleh dari ajaran agama atau kepercayaan. Contoh: menggunakan jimat ( cincin, keris, sabuk dan lain-lain) akan mendatangkan rejeki ataupun dapat menghindarkan dari bahaya.
7)                  Metode ilmiah
Metode ini dilakukan melalui proses deduksi dan induksi. Permasalahan dan jawaban ditemukan di dalam dunia empiris ( pengalaman) melalui proses deduksi dan induksi yang dilakukan secara sistematis. Moh nazir menyebutkan enam kriteria dalam metode ini, yaitu berdasarkan fakta, bebas dari prasangka, menggunakan prinsip-prinsip analisis, menggunakan hipotesis, menggunakan ukuran obyektif, dan menggunakan teknik kuantitatif.
Tanpa mengabaikan cara-cara lain, perhatian kita terpusat pada metode ilmiah ini, yang sering dikacaukan dengan apa yang disebut metode non ilmiah. Oleh karena itu, perlu dijelaskan terlebih dahulu perbedaan metode ilmiah dan non ilmiah.
Sebelum kita mengupas tentang metode ilmiah dan non ilmiah, terlebih kita cari tahu dahulu apa pengertian dari metode? apakah sama antara metode dengan pendekatan? Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa metode merupakan cara atau teknik mengetahui sesuatu sedangkan pendekatan merupakan aplikasi atau penerapan dari metode. Dalam menentukan kebenaran pengetahuan kita menggunakan dua macam pendekatan yaitu pendekatan ilmiah dan non ilmiah dalam proses penelitiannya Proses penelitian bersifat empiris, terkendali, analitis, dan sistematis. Kerlinger membedakan pendekatan ilmiah dengan non ilmiah dalam lima hal, yaitu:
1.                  Pertama-tama pada penggunaan pola konseptual dan struktur teoritis dalam menjelaskan gejala. Pendekatan dengan metode non ilmiah menggunakan teori dan konsep secara longgar, sedangkan pendekatan ilmiah menggunakan teori dan konsep yang ketat dan terkendali. Pada pendekatan non ilmiah, penjelasan tentang gejala atau fenomena tertentu sering diterima begitu saja tanpa mempertanyakan lebih mendalam. Seperti sejenis penyakit misalnya dipandang sebagai hukuman atas dosa. Para ilmuwan tidak dapat menerima hal ini sebagai kebenaran. Mereka perlu memeriksanya secara realistis dan menguji kebenarannya secara empiris.
2.                  Dalam pendekatan ilmiah, teori, dan hipotesis di uji secara sistematis dan empiris. Pada pendekatan non ilmiah, teori dan hipotesis di uji juga tetapi secara selektif dan subjektif.
3.                  Pada pendekatan ilmiah, pengamatan terhadap fenomena dilakukan secara terkendali. Untuk mengetahui sebab-sebab dari suatu peristiwa dengan mengumpulkan seperangkat variabel. Apabila mereka percaya bahwa lingkungan permukiman yang kumuh mengakibatkan kenakalan remaja, maka kenakalan anak remaja di luar lingkungan permukiman kumuh iitu tidak lagi diperhatikan.
4.                  Pada pendekatan non ilmiah, dua fenomena yang sering muncul langsung dihubungkan dalam satu hubungan sebab akibat tanpa melalui penelitian yang dilakukan secara sistematis. Misalkan sejumlah anak menunjukkan prestasi belajar yang tinggi. Di pihak lain dikethui pula bahwa anak-anak itu pada umumnya berasal dari golongan ekonomi kuat. Dari kedua fenomena ini ditarik kesimpulan bahwa keadaan ekonomi yang kuat menyebabkan prestasi belajar tinggi.
5.                  Pendekatan ilmiah selalu bersifat empiris, dalam arti harus ada penjelasan tentang hubungan diantara fenomena-fenomena, yang dilakukan berdasarkan kenyataan yang realistis dan mengesampingkan semua hal yang bersifat metafisik. Sebagai contoh, hama tikus merajalela di sawah dan merusak padi karena Dewi Sri Marah atas ulah manusia ang serakah. Penyebab dari merajalelanya tikus tidak dicari dalam dunia metafisik seperti itu, tetapi dalam dunia empiris.

BAB 3
PENUTUP
A.    Simpulan
Penelitian yang benar diperoleh dari pengetahuan yang benar. Pengetahuan merupakan hasil dari proses mencari tahu, dari yang tadinya tidak tahu menjadi tahu, dari tidak dapat menjadi dapat. Dalam proses mencari tahu ini mencakup berbagai metode dan konsep-konsep, baik melalui proses pendidikan maupun melalui pengalaman yang keduanya saling terkait. Penelitian bukan terlahir dari yang instan tetapi memerlukan proses yang panjang dan lama. Penelitian menggunakan metode maupun pendekatan dalam prosesnya yaitu pendekatan ilmiah dan non ilmiah. Pendekatan Ilmiah yaitu pendekatan yang pengujian dan pemerolehannya dilakukan secara teori, konseptual, empiris, dan sistematis. Sedangkan pendekatan non ilmiah yaitu pendekatan yang pengujian dan pemerolehannya dilakukan secara teori, dan non konsep.

DAFTAR PUSTAKA
Ismawati, Esti. 2011. Metode Penelitian Pendidikan Bahasa Dan Sastra. Surakarta: Yuma Pustaka.
Gulo, W. 2002. Metodologi Penelitian. Jakarta: Gramedia
Notoatmodjo, S. (2005). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar