Selasa, 18 September 2012

KONSEP DASAR PEMBELAJARAN APRESIASI PROSA FIKSI


B. KONSEP DASAR PEMBELAJARAN APRESIASI PROSA FIKSI
I. Genre/klasifikasi/jenis prosa fiksi
 1). Pengertian Novel, cerpen, cerpan (novelette), dan  roman.
èa). Fiksi, seperti yang telah kita ketahui, dapat diartikan sebagai cerita rekaan. Akan tetapi, pada kenyataannya tidak semua karya yang mengandung unsur rekaan disebut karya fiksi. Contoh puisi, drama, puisi drama, drama puisi, puisi-balada, skenario atau teks dialog untuk film maupun sandiwara. Walaupun tidak disangkal bahwa karya-karya tersebut mengandung unsur rekaan , namun pada umumnya TIDAK disebut sebagai karya fiksi. Karya-karya tersebut dipandang sebagai genre yang berbeda.

èb). Maka, dalam pembahasan ini, karya fiksi sengaja dibatasi pada karya yang berbentuk prosa, prosa naratif, atau narrative text, yang mengacu dalam kesastraan Inggris dan Amerika. Yakni karya yang berwujud novel, cerita pendek,  cerita panjang atau novelet (novelette), dan roman.

èc). Novel yang berasal dari bahasa italia novella (Bahasa Jerman: novelle) secara harfiah berarti ‘sebuah barang baru yang kecil’, dan kemudian diartikan sebagai cerita pendek dalam bentuk prosa.

èd). Kemudian istilah novella dan novelle, memiliki pengertian yang sama dengan istilah Indonesia yakni novelet (Inggris: novelette) yakni sebuah karya prosa fiksi yang panjangnya cukupan, tidak terlalu panjang, juga tedak terlalu pendek.

èe). Sementara ROMAN dalam pengertian modern berarti cerita prosa yang melukiskan pengalaman-pengalaman batin dari beberapa orang yang berhubungan satu dengan yang lain dalam suatu keadaan. (Van Leeuwen, lewat Jassin, 1961:70), Roman adalah cerita tokoh sejak dari ayunan sampai ke kubur.

2. Kemudian, istilah novel,  cerpen (Short story), dan novelet, serta roman  dicobabedakan. Perbedaan Novel, cerpen, cerpan (novelette), dan  roman.
 èa). Perbedaan pertama dan utama antara novel, cerpen, dan novelet, dapat dilihat dari bentuk formal segi panjang-pendeknya cerita. Sebuah cerita yang panjang, katakanlah ratusan halaman, jelas tak dapat disebut sebagai cerpen, melainkan lebih tepat sebagai novel.

èb). Cerpen, sesuai namanya, adalah cerita pendek. Akan tetapi, berapa ukuran panjang-pendek itu belum ada kesepakatan baik diantara para ahli maupun sastrawan. Bahkan, EDGAR ALLAN POE, sastrawan ternama dari Amerika mengatakan, cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam.

èc). Kemudian novelet, adalah karya yang lebih pendek dari novel dan lebih panjang dari cerpen. Menurut Agus Wis, novelet yang ditulis pada media massa (Koran atau majalah) secara bersambung disebut cerita bersambung (cerbung).

èd). Sementara perbedaan novel dengan roman, kalau novel bersifat lebih realistis, sedangkan roman bersifat puitis dan epic. Artinya, novel ditulis dengan meniru kehidupan yang lebih realis, baik dari realitas social, politik, hukum, budaya, dalam kehidupan nyata dengan tokoh yang ekstrover dan bersifat objektif. Sedangkan roman tidak berusaha menggambarkan tokoh yang lebih realis, tetapi lebih merupakan gambaran angan-angan dengan tokoh yang lebih introvert dan bersifat subjektif.

3. Perbedaan lebih jauh antara novel dengan cerpen
è Unsur-unsur pembangun novel , seperti plot (Alur), tema, penokohan, dan latar, secara umum dapat dikatakan bersifat lebih rinci dan kompleks daripada unsur-unsur pembangun carpen.

èa). PLOT. Plot atau alur cerpen pada umumnya merupakan alur tunggal, hanya terdiri dari satu urutan peristiwa yang diikuti sampai cerita berakhir. Urutan peristiwa dapat dimulai dari mana saja, misalnya dari konflik yang sudah meningkat dan dibangun dengan klimaks yang bersifat tunggal pula. Sedangkan alur dalam novel, umumnya memiliki lebih dari satu plot; terdiri dari plot utama, dan subplot. Plot utama berisi konflik utama yang menjadi inti persoalan sepanjang cerita itu, sedangkan sub-subplot adalah munculnya konflik-konflik tambahan yang bersifat menopang, mempertegas, dan mengintensifkan plot utama untuk sampai ke klimaks.

èb). TEMA. Karena ceritanya yang pendek, cerpen hanya berisi satu tema. Hal ini berkaitan dengan keadaan plot yang juga tunggal dan pelaku atau tokoh yang terbatas. Sebaliknya, novel pada umumnya dapat saja menawarkan lebih dari satu tema, yaitu tema utama dan tema-tema tambahan.

èc). PENOKOHAN. Penokohan dari cerpen, tertama dari segi perwatakan, tidak mengungkapkan detil-detil perwatakan secara lengkap, sehingga pembaca harus mengkonstruksikan sendiri gambaran yang lebih lengkap dari perwatakan sang tokoh. Sebaliknya, tokoh-tokoh dalam novel biasanya ditampilkan dengan perwatakan yang lebih luas, disertai dengan cirri-ciri fisik maupun ciri-ciri social lainnya.

èd). LATAR. Pelukisan latar cerita untuk cerpen tidak memerlukan detil-detil khusus tentang keadaan latar, misalnya yang menyangkut keadaan tempat dan social. Cerpen hanya memerlukan gambaran secara garis besarnya saja, namun secara implisit mampu memberikan gambaran latar yang dimaksud. Sebaliknya, Novel dapat saja menggambarkan keadaan latara yang lebih lengkap, detil, sehingga lebih mudah memberikan gambaran latar yang lebih konkret dan pasti.

èSIMPULAN. Dari perbedaan antara novel dan cerpen di atas, maka perbedaan yang paling menonjol dari keduanya adalah terletak pada KEPADUAN. Artinya, novel dan cerpen yang baik haruslah memenuhi kriteria kepaduan, unity. Yakni segala sesuatu yang diceritakan bersifat dan mendukung tema utama. Pencapaian  sifat kepaduan novel lebih sulit dibandingkan dengan cerpen. Karena novel terdiri dari sejumlah bab yang masing-masing bab berisi cerita berbeda, tetapi merupakan hubungan sebab akibat. Tidak seperti cerpen yang telah mencapai keutuhan cerita dalam bentuknya yang pendek. ç

4). Novel serius dan novel populer.
èSebutan novel populer, atau novel pop, mulai merebak sesudah suksesnya novel KARMILA dan CINTAKU DI KAMPUS BIRU pada tahun 70-an. Novel populer lebih mudah dipahami dan lebih mudah dinikmati, karena ia memang lebih mengejar selera pembaca demi lebih menitikberatkan kepentingan hiburan dan komersial dengan pasar pembaca remaja. Sehingga unsur cerita seperti plot, tema, karakter tokoh, latar biasanya bersifat stereotip, hanya itu-itu saja, dan begitu-begitu saja, dan tidak mengutamakan adanya unsur-unsur pembaharuan. Membaca novel populer bagaikan  mengenali dan menemukan kembali sesuatu yang telah dikenali dan atau dimiliki sebelumnya.

èSedangkan novel serius jelas kebalikan dari novel populer Novel serius berusaha mengungkapkan sesuatu yang baru dengan menampilkan makna baru dari unsur-unsur pembangunnya. Singkatnya unsur kebaruan diutamakan. Menampilkan makna sastra yang sastra. (WIS)
                                         
TUGAS INDIVIDU: Buat makalah tentang perbandingan kelebihan dan kekurangan, serta ke khas-an dari membaca novel dan cerpen. (Novel yang dibaca harus ditulis ringkasannya, sedangkan cerpen harus ditulis utuh, pada makalah yang dibuat)

HAKIKAT: PEMBELAJARAN APRESIASI PROSA FIKSI


A.HAKIKAT: PEMBELAJARAN APRESIASI PROSA FIKSI
I. Pengertian yang menyangkut peristilahan dan konsep
 1). Pengertian Pembelajaran.
èIstilah ‘pembelajaran’ memiliki pengertian yang sama dengan konsep ‘belajar-mengajar’. Yaitu proses yang melibatkan dua komponen utama dalam kegiatan belajar-mengajar, yakni antara guru dan siswa.

èPenggunaan Istilah ‘pembelajaran’ terutama dimaksudkan untuk membedakan istilah ‘pengajaran’. Perbedaan kedua istilah ini dapat dijelaskan melalui proses morfologis sebagai berikut :
                           ajar                   ajar
                           mengajar         belajar
                           pengajar          pembelajar
                           pengajaran     pembelajaran  
èBerdasarkan proses morfologis di atas, tampak jelas bahwa perbedaan mendasar antara ‘pengajaran’ dan ‘pembelajaran’ baik sebagai istilah maupun konsep terletak pada penekanan aktivitas guru dan siswa dalam proses belajar mengajar.

è‘Pengajaran’ lebih bertumpu pada aktivitas guru sebagai pengajar, sedangkan “pembelajaran” lebih menekankan pentingnya aktivitas belajar bagi siswa selaku individu pembelajar.

è Jadi bisa disimpulkan, konsep dan istilah “pembelajaran” pada hakikatnya merupakan suatu upaya yang disengaja dan direncanakan sedemikian rupa oleh pihak guru sehingga memungkinkan terciptanya suasana dan aktivitas belajar yang kondusif bagi para siswanya ç
                 
Dalam konteks ini, baik guru maupun siswa harus sama-sama berperan aktif menurut fungsinya masing-masing, yaitu sebagai pengajar dan pembelajar.

2). Pengertian Apresiasi.
Istilah apresiasi berasal dari bahasa Latin  apreciatio yang berarti ‘mengindahkan’ atau ‘menghargai’. Dalam konteks yang lebih luas, menurut Gove mengandung makna ;
(1) pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin
(2) pemahaman dan pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan oleh pengarang.

Sedangkan Squire dan Taba menyatakan bahwa apresiasi sebagai suatu proses akan melibatkan tiga unsur inti, yakni (1) aspek kognitif, (2) aspek emotif, dan (3) aspek evaluatif.
èAspek kognitif berkaitan dengan keterlibatan intelek pembaca dalam upaya memahami unsur-unsur kesastraan yang bersifat objektif (in-ekstrinsik).
èAspek emotif berkaitan dengan keterlibatan pembaca dalam upaya menghayati keindahan teks yang dibaca dan bersifat subjektif (berdasar pengalaman dan pengetahuan pembaca).
èAspek evaluatif berhubungan dengan kegiatan memberikan penilain terhadap baik-buruk, indah- tidak indah, sesuai-tidak sesuai, serta sejumlah ragam penilaian lain yang tidak harus hadir, tetapi cukup dipahami oleh pembaca.

 Sejalan dengan pengertian apresiasi di atas,  oleh Agus Wis, disimpulkan bahwa apresiasi adalah kegiatan yang meliputi empat aspek keterampilan berbahasa, dengan menggauli secara sungguh-sungguh sehingga menumbuhkan pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap sebuah teks naratif, dalam hal ini karya sastra.

3) Pengertian Prosa Fiksi
Pengertian dan istilah prosa fiksi pada pembahasan ini hanya dibatasi pada  prosa sebagai salah satu genre sastra. Yakni karya yang imajiner dan estetis.

èProsa dalam pengertian kesastraan juga disebut fiksi (fiction), teks naratif (narrative text), atau wacana naratif (narrative discource). Sehingga istilah prosa atau fiksi atau teks naratif, atau wacana naratif berarti cerita rekaan (Cerkan) atau cerita khayalan.

Hal ini berarti fiksi merupakan karya naratif yang isinya tidak menyarankan (tidak mengacu) pada kebenaran sejarah (Abrams, 1981:61). Dengan demikian, Karya fiksi merupakan karya naratif yang isinya mengacu/menyarankan pada karya yang menceritakan sesuatu yang bersifat rekaan, khayalan, sesuatu yang tidak ada dan tidak terjadi sungguh-sungguh sehingga ia tak perlu dicari kebenarannya pada dunia nyata.

èIstilah fiksi sering dipergunakan dalam pertentangannya dengan realitas (sesuatu yang benar ada dan terjadi didunia nyata sehingga kebenarannya pun dapat dibuktikan dengan data empiris). Benar tidaknya, ada tidaknya, dan  dapat tidaknya,  sesuatu yang dikemukakan dalam suatu karya yang dibuktikan secara empiris, inilah antara lain, yang membedakan karya fiksi dengan karya nonfiksi. Tokoh, peristiwa, dan tempat yang disebut-sebut dalam fiksi adalah bersifat imajinatif, sedang pada karya nonfiksi bersifat faktual.

èSebagai karya imajiner, fiksi menawarkan berbagai permasalahan manusia dan kemanusiaan, hidup dan kehidupan, yang dituangkan secara sungguh-sungguh melalui perenungan yang intens dan bukan hanya sebagai hasil lamunan saja, tetapi penuh tanggung jawab dan kesadaran kreativitas yang diungkapkan kembali melalui sarana fiksi. Oleh karena itu fiksi dapat diartikan sebagai ‘prosa naratif’ yang bersifat imajinatif, sekaligus masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasikan interaksi manusia-lingkungan-dan tuhannya. (Altenbernd dan Lewis, 1966:14)

èBetapapun saratnya pengalaman dan permasalahan kehidupan yang ditawarkan, sebuah karya fiksi haruslah tetap merupakan cerita yang menarik, tetap merupakan bangunan struktur yang koheren, dan tetap mempunyai tujuan estetik (Wellek & Warren : 1956:212). Horace mengatakan haruslah “dulce et utile”, indah dan berguna.  “Membuat manusia lebih bijaksana, arif, santun, sekaligus romantis”, kata Agus Wis.   
èFIKSI pertama-tama juga menyaran, mengacu, pada prosa naratif, yang dalam hal ini adalah novel dan cerpen, bahkan kemudian fiksi sering dianggap bersinonim dengan novel (Abrams, 1981: 61).

Oleh karena itu, novel dan cerpen sebagai sebuah karya prosa fiksi  menawarkan sebuah dunia, dunia yang diidealkan, dunia imajinatif, yang dibangun melalui berbagai unsur instrinsik dan ekstrinsiknya. Kesemuanya bersifat noneksistensial dan imajinatif, dari tiruan yang mirip, diimitasikan, dan atau dianalogikan dengan dunia nyata.

Sehingga terlihat dengan jelas, ada perbedaan antara kebenaran dalam dunia fiksi dengan kebenaran di dunia nyata. Kebenaran dalam dunia fiksi adalah kebenaran yang sesuai dengan keyakinan pandangan pengarang terhadap masalah hidup dan kehidupan. Kebenaran karya fiksi tidak harus sesuai dengan kebenaran di dunia nyata dari segi hukum, moral, agama, dan bahkan mungkin juga  logika.

èPerlu diketahui, dalam dunia kesastraan juga terdapat karya sastra yang mendasarkan diri pada FAKTA. Karya sastra yang demikian, oleh Abrams (1981:61) disebut fiksi historis (historical fiction), jika dasar penulisan ceritanya dari fakta sejarah, contoh Bendera Hitam dari Kurasan dan Tentara Islam di Tanah Galia, karya Dardji Zaidan, fiksi biografis (biographical fiction), Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat, karya Cindy Adam, Kuantar Kau ke Gerbang, karya Ramadhan K.H. Tahta dan Rakyat, oleh Mochtar Lubis, fiksi  sains ( science fiction), novel yang berjudul 1984, karya George Orwell. Ketiga jenis karya tersebut dikenal dengan sebutan fiksi nonfiksi (nonfiction fiction).
                                                                 ===000===
Simpulan: Hakikat Pembelajaran Apresiasi Prosa Fiksi akan dapat tumbuh dengan baik apabila pengajar dan pembelajar mampu menumbuhkan rasa akrab dengan teks naratif yang diapresiasinya, dan bisa menumbuhkan sikap sungguh-sungguh, serta mampu melaksanakan kegiatan pembelajaran apresiasi prosa fiksi melalui empat aspek keterampilan berbahasa, sebagai bagian dari hidupnya, sebagai suatu kebutuhan yang mampu memuaskan rohaniahnya. (WIS)

PENGERTIAN PENGETAHUAN, CARA MEMPEROLEH PENGETAHUAN


PENGERTIAN PENGETAHUAN, CARA MEMPEROLEH PENGETAHUAN
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Metode Penelitian Bahasa
Dosen Pengampu:  Drs. Suyoto, M.Pd.

Ikip
Oleh:
Kelompok  1
Endhi Pujiana
Silvia Ariyani
Nurhadi


JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
IKIP PGRI SEMARANG
2011
















BAB II
PEMBAHASAN
A.    HAKIKAT PENGETAHUAN
Terdapat peribahasa sebagai berikut” barang siapa yang merasa dirinya pintar, itulah kebodohan, tetapi barang siapa yang merasa dirinya bodoh, itulah kepintaran.” Dari peribahasa tersebut mempunyai filsafat yang berbunyi:
a.                Ada orang yang tahu ditahunya
b.               Ada orang yang tahu di tidak tahunya
c.                Ada orang yang tidak tahu di tahunya
d.               Ada orang yang tidak tahu di tidak tahunya
Orang yang tidak tahu di tidak tahunya tetapi merasa tahu segala-galanya itulah kebodohan. Kita menyadari bahwa amat sedikit pengetahuan yang kita miliki. Mengetahui bahwa masih banyak yang belum kita ketahui sehingga menimbulkan keinginan untuk mengetahuinya.
Masalah pengetahuan berkisar pada tiga hal, yaitu mengenai apa disebut ontologis, bagaimana mengetahui disebut epistemologi, dan untuk apa pengetahuan itu disebut aksiologi. Hakikat pengetahuan meliputi semua yang diketahui oleh seseorang tentang objek tertentu. Seseorang mengetahui apa yang baik dan buruk, baik dan benar, mengetahui bahwa tanaman menjadi subur jika diberi pupuk, mengetahui bahwa air laut akan pasang jika bulan purnama dan surut jika bulan mati, mengetahui cara mengoperasikan telepon seluler dan sebagainya. Contoh di atas merupakan pengetahuan pengalaman artinya ia tidak mempunyai pengetahuan tentang ilmu pengetahuan, yaitu pengetahuan yang menerangkan pengetahuan pengalaman itu. Masalah pengetahuan bukan hanya mengetahui, tetapi mengetahui yang benar. Banyak dari pengetahuan itu kita peroleh dari orang lain. Kalau kita bertanya kepada seseorang dimana jalan ke rumah A, dan ia memberi tahu kita, maka kita bisa percaya bahwa informasi yang diberikannya itu adalah informasi yang benar atau salah. Dengan kata lain, seberapa jauh kita menerimanya sebagai suatu kebenaran. Kebenaran adalah suatu pernyataan tanpa keraguan. Jadi menurut Notoatmodjo pengetahuan merupakan hasil dari proses mencari tahu, dari yang tadinya tidak tahu menjadi tahu, dari tidak dapat menjadi dapat. Dalam proses mencari tahu ini mencakup berbagai metode dan konsep-konsep, baik melalui proses pendidikan maupun melalui pengalaman.
B.     BERBAGAI CARA MEMPEROLEH PENGETAHUAN
Penelitian atau riset pada hakikatnya bertujuan memperoleh pengetahuan tentang sesuatu yang dianggap benar melalui proses bertanya dan menjawab. Penelitian bertitik tolak dari pertanyaan yang muncul karena adanya keraguan, dan keraguan ini yang menjadi dasar permulaan ilmu pengetahuan. Dari pertanyaan muncul suatu proses untuk memperoleh jawaban, yaitu jawaban yang dipercaya sebagai kebenaran walaupun sifat kebenarannya sementara. Jawaban yang diperoleh dari proses seperti itu pada gilirannya akan dipertanyakan kembali, yang akan dijawab lagi melalui proses penelitian. Demikianlah penelitian itu tidak pernah berakhir sehingga ilmu pengetahuan bisa berkembang terus. Kemudian untuk melakukan sebuah penelitian diperlukan metode atau cara atau teknik yang akan di tempuh. Dalam hal ini kita kenal dengan Metodologi yang berasal dari dua kata “ metode dan logos”, metode yang berarti cara atau teknik sedangkan logos berarti ilmu. Jadi metodologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang bagaimana kita mengetahui sesuatu.
Jadi hakikat metodologi penelitian tidak terletak pada apa yang kita ketahui, melainkan pada bagaimana kita mengetahui. Contoh, jika anda ditanya bagaimana bentuk bumi? Maka anda akan menjawab bahwa bentuk bumi bulat. Itu merupakan pengetahuan anda tentang bumi. Tetapi kalau ditanya bagaimana mengetahui bahwa bumi itu bulat? Itu merupakan metodologi.
Kita Memperoleh Pengetahuan dengan Dua Cara Menurut Babbie sebagai berikut:
1.                  Melalui orang lain. Orang lain memberitahukan kepada kita, baik secara langsung maupun melalui media, dan apa yang diberitahukan itu kita terima sebagai sesuatu yang kita anggap benar. Di keluarga, kita banyak memperoleh pengetahuan dari orang tua, sejak bayi hingga dewasa. Di sekolah, kita memperoleh pengetahuan dari guru dan bacaan-bacaan yang ada di perpustakaan. Dalam pergaulan di masyarakat, kita banyak memperoleh pengetahuan dari teman atau orang lain yang kita jumpai. Melalui buku-buku kita mendapat pengetahuan yang memperkaya diri. Pengetahuan yang diperoleh dengan cara ini disebut agreement reality.
2.                  Pengalaman diri sendiri secara langsung
Orang mengatakan bahwa pengetahuan adalah guru yang baik pengetahuan dari pengalaman diperoleh dengan mempelajari pengalaman kita sendiri. Pengalamn kita setiap hari jika direnungkan kembali akan memberikan banyak pengetahuan. Oleh karena itu janganlah langsung tidur pada malam hari sebelum merenungkan pengalaman hari itu untuk di syukuri dalam doa. Pengetahuan yang diperoleh dengan cara ini disebut riential reality.
C.    METODE DAN PENDEKATAN
Ada beberapa cara yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan diantaranya:
1)                  Metode Keteguhan ( Tenacity)
Dengan metode ini orang menerima suatu kebenaran karena merasa yakin akan kebenarannya. Unsur keyakinan dalam metode ini. Bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan dan bukan berasal dari monyet, diterima sebagai kebenaran karena keyakinan agama. Contoh sebagai umat muslim, kita yakin bahwa berbohong, mencuri, berkhianat, melakukan hubungan di luar nikah itu adalah dosa. Percaya jika memelihara keris tertentu maka ia akan terlindung dari bahaya atau sebagai tolak bala.
2)                  Metode otoritas
Sesuatu diterima sebagai kebenaran karena sumbernya mempunyai otoritas untuk itu. Bahwa alam semesta adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa diterima sebagai suatu kebenaran karena sumbernya adalah Alkitab. Pertanyaan dari seorang tokoh tertentu juga diterima sebagai kebenaran karena ia mempunyai keahlian di bidang itu dan terdapat sumbernya. Contoh: seorang hakim dalam memutuskan perkara tentulah beliau menggunakan acuan sebelum menjatuhkan hukuman tidak dengan seenaknya sendiri. Dan acuan tersebut terwujud.
3)                  Metode A Priori atau Intuisi
Sesuatu diterima sebagai kebenaran semata-mata berdasarkan intuisi artinya daya atau kemampuan atau memahami sesuatu tanpa dipikirkan atau dipelajari, hanya bisikan hati, gerak hati, atau juga bisa di namakan fileng. Contoh: meyakini perasaan cinta pada seseorang, perasaan benci dan dendam kepada orang lain.
4)                  Metode Tradisi/ Kebiasaan
Seseorang menerima kebenaran dari tradisi yang berlaku di dalam lingkungannya. Contoh: seperti masyarakat pedesaan yang setiap tahun mengadakan ritual sedekah bumi maupun sedekah laut. Hal tersebut sebagai perwujudan syukur  kepada penguasa langit dan bumi. Mereka meyakini jika tidak melakukan ritual tersebut maka akan terjadi bencana. 
5)                  Metode Trial And Error
Pengetahuan dengan cara ini diperoleh melalui pengalaman langsung. Sesuatu yang dianggap benar diperoleh hasil dari serangkaian percobaan yang tidak sistematis. Mula-mula dicoba, hasilnya salah, dicoba lagi sampai akhirnya ditemukan yang benar. Contoh: penelitian yang dilakukan Thomas Edision ( penemu listrik), Albert Eintein yang selalu mengalami kegagalan dalam menemukan pengetahuan. Hingga akhirnya penemuan itu menjadi sebuah pengetahuan yang menggemparkan dunia sampai sekarang ini.
6)                  Metode Metafisik
Suatu pengetahuan yang dianggap benar diperoleh secara metafisik. Jawaban terhadap masalah yang ditemukan dalam dunia empiris dicari di dalam dunia supranatural, di dalam dunia transedden ( di luar daya nalar atau kesanggupan manusia). Pengetahuan yang diperoleh dari ajaran agama atau kepercayaan. Contoh: menggunakan jimat ( cincin, keris, sabuk dan lain-lain) akan mendatangkan rejeki ataupun dapat menghindarkan dari bahaya.
7)                  Metode ilmiah
Metode ini dilakukan melalui proses deduksi dan induksi. Permasalahan dan jawaban ditemukan di dalam dunia empiris ( pengalaman) melalui proses deduksi dan induksi yang dilakukan secara sistematis. Moh nazir menyebutkan enam kriteria dalam metode ini, yaitu berdasarkan fakta, bebas dari prasangka, menggunakan prinsip-prinsip analisis, menggunakan hipotesis, menggunakan ukuran obyektif, dan menggunakan teknik kuantitatif.
Tanpa mengabaikan cara-cara lain, perhatian kita terpusat pada metode ilmiah ini, yang sering dikacaukan dengan apa yang disebut metode non ilmiah. Oleh karena itu, perlu dijelaskan terlebih dahulu perbedaan metode ilmiah dan non ilmiah.
Sebelum kita mengupas tentang metode ilmiah dan non ilmiah, terlebih kita cari tahu dahulu apa pengertian dari metode? apakah sama antara metode dengan pendekatan? Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa metode merupakan cara atau teknik mengetahui sesuatu sedangkan pendekatan merupakan aplikasi atau penerapan dari metode. Dalam menentukan kebenaran pengetahuan kita menggunakan dua macam pendekatan yaitu pendekatan ilmiah dan non ilmiah dalam proses penelitiannya Proses penelitian bersifat empiris, terkendali, analitis, dan sistematis. Kerlinger membedakan pendekatan ilmiah dengan non ilmiah dalam lima hal, yaitu:
1.                  Pertama-tama pada penggunaan pola konseptual dan struktur teoritis dalam menjelaskan gejala. Pendekatan dengan metode non ilmiah menggunakan teori dan konsep secara longgar, sedangkan pendekatan ilmiah menggunakan teori dan konsep yang ketat dan terkendali. Pada pendekatan non ilmiah, penjelasan tentang gejala atau fenomena tertentu sering diterima begitu saja tanpa mempertanyakan lebih mendalam. Seperti sejenis penyakit misalnya dipandang sebagai hukuman atas dosa. Para ilmuwan tidak dapat menerima hal ini sebagai kebenaran. Mereka perlu memeriksanya secara realistis dan menguji kebenarannya secara empiris.
2.                  Dalam pendekatan ilmiah, teori, dan hipotesis di uji secara sistematis dan empiris. Pada pendekatan non ilmiah, teori dan hipotesis di uji juga tetapi secara selektif dan subjektif.
3.                  Pada pendekatan ilmiah, pengamatan terhadap fenomena dilakukan secara terkendali. Untuk mengetahui sebab-sebab dari suatu peristiwa dengan mengumpulkan seperangkat variabel. Apabila mereka percaya bahwa lingkungan permukiman yang kumuh mengakibatkan kenakalan remaja, maka kenakalan anak remaja di luar lingkungan permukiman kumuh iitu tidak lagi diperhatikan.
4.                  Pada pendekatan non ilmiah, dua fenomena yang sering muncul langsung dihubungkan dalam satu hubungan sebab akibat tanpa melalui penelitian yang dilakukan secara sistematis. Misalkan sejumlah anak menunjukkan prestasi belajar yang tinggi. Di pihak lain dikethui pula bahwa anak-anak itu pada umumnya berasal dari golongan ekonomi kuat. Dari kedua fenomena ini ditarik kesimpulan bahwa keadaan ekonomi yang kuat menyebabkan prestasi belajar tinggi.
5.                  Pendekatan ilmiah selalu bersifat empiris, dalam arti harus ada penjelasan tentang hubungan diantara fenomena-fenomena, yang dilakukan berdasarkan kenyataan yang realistis dan mengesampingkan semua hal yang bersifat metafisik. Sebagai contoh, hama tikus merajalela di sawah dan merusak padi karena Dewi Sri Marah atas ulah manusia ang serakah. Penyebab dari merajalelanya tikus tidak dicari dalam dunia metafisik seperti itu, tetapi dalam dunia empiris.

BAB 3
PENUTUP
A.    Simpulan
Penelitian yang benar diperoleh dari pengetahuan yang benar. Pengetahuan merupakan hasil dari proses mencari tahu, dari yang tadinya tidak tahu menjadi tahu, dari tidak dapat menjadi dapat. Dalam proses mencari tahu ini mencakup berbagai metode dan konsep-konsep, baik melalui proses pendidikan maupun melalui pengalaman yang keduanya saling terkait. Penelitian bukan terlahir dari yang instan tetapi memerlukan proses yang panjang dan lama. Penelitian menggunakan metode maupun pendekatan dalam prosesnya yaitu pendekatan ilmiah dan non ilmiah. Pendekatan Ilmiah yaitu pendekatan yang pengujian dan pemerolehannya dilakukan secara teori, konseptual, empiris, dan sistematis. Sedangkan pendekatan non ilmiah yaitu pendekatan yang pengujian dan pemerolehannya dilakukan secara teori, dan non konsep.

DAFTAR PUSTAKA
Ismawati, Esti. 2011. Metode Penelitian Pendidikan Bahasa Dan Sastra. Surakarta: Yuma Pustaka.
Gulo, W. 2002. Metodologi Penelitian. Jakarta: Gramedia
Notoatmodjo, S. (2005). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.